Rabu, 20 Februari 2013

MC Upacara Temu Manten

RITUAL PANGGIH

Bapak ibu hadirin yang berbahagia.
Mohon perhatian, mengingat sesaat lagi mempelai putra berserta rombongan akan segera tiba, maka marilah kita bersama-sama, menyambut dan menyaksikan pertemuan antara dua insan yang sedang menunaikan sunnah rosul ini, dalam upacara temu pengantin atau ritual panggih berikut ini.
§  Ritual Panggih
Hadirin sekalian……
Terdengar suara alunan gamelan / Sholawat yang indah mengiringi upacara panggih atau tamu yang sacral ini. Selanjutnya kita saksikan bersama pengantin pria dihantar dan didampingi oleh keluarga dan para kerabatnya telah tiba dikedamaian pangantin putri. Sementara itu pengantin putri didampingi oleh  orang tua dan keluarganya berjalan mengiringi dari belakang untuk bersama-sama menyambut mempelai putra.
Dan tanpak sekali pengantin putri yang begitu cantik dan anggun dirias secara tradisional, demikian juga pengantin putra dirias dengan mengenakan pakaian adat upacara perkawinan terlihat begitu gagahnya, mereka bagaikan raja dan ratu sehari.
Dan terlihat pengantin putra dan putri diampit oleh dua orang pemuda dan pemudi dengan membawa sepasang kembar mayang. Konon hiasan kembar mayang menurut cerita wayang kulit adalah kehendak atau permintaan dari Sri Krisna pada saat penikahan agung antara Sembrada adik dari Sri krisna dengan Arjuna dari keluarga pendawa, sehingga sampai saat ini sepasang sepasang kembar mayang menjadi bagian dari ritual panggih.
Dan pada saat upacara panggih ini, mereka saling bertukar kembar mayang lalu dibuang didekat rumah atau didekat tempat berlangsungnya upacara, hal ini dimaksudkan untuk membuang bala' agar upacara ini nanti dapat berlangsung dengan lancar tanpa halangan suatu apapun.
Selanjutnya seorang wanita pengiring pengantin putra maju kedepan dan memberikan sanggan (sanggon) kepada ibu dari pengantin putri sebagai tanda penghormatan kepada penyelenggara upacara perkawinan atas tuan rumah.
§  Ritual Balangan Suruh
Hadirin sekalian…….selanjutnya ritual balangan suruh, kedua mempelai saling melemparkan tujuh ikat daun sirih yang diisi dengan kapur sirih dan diikat dengan benang putih. Ritual balangan suruh ini menurut kepercayaan kuno, daun sirih mempunyai daya untuk mengusir roh jahat. Dengan melemparkan daun sirih tersebut akan bisa dibuktikan bahwa kedua pengantin itu adalah pengantin yang sejati, bukan jelmaan makhluk lain.
§  Ritual Wiji Dadi
Bapak ibu hadirin berikutnya ritual wiji dadi, dalam ritual ini pengantin putra menginjak hingga pecah sebuah telur ayam dengan air kembang. Ini melambangkan bahwa pengantin putra siap untuk menjadi ayah yang bertanggung jawab sedangkan pengantin putri akan mengurusi suaminya dengan penuh kesetiaan.
§  Ritual Sindur Binayang
Hadirin sekalian sesudah ritual wiji dadi, ayah dari pengantin putri berjalan didepan pengantin menuju kursi pelaminan, sedangkan ibu dari pengantin putri berjalan dibelakang pengantin sambil menutupi pundak pasangan pengantin dengan kain sindar. Ritual ini melambangkan bahwa seorang ayah menunjukakan kejalan kebahagiaan sedangkan ibu memberikan dukungannya dari belakang.
§  Ritual Timbang
Selanjutnya Ritual Timbang, dimana pengantin putra dan putri bersama-sama duduk dipangkuan ayahhanda pengantin putri, (dan sang ayah akan berkata bahwa kedua-duanya mempunyai berat yang sama ) itu artinya beliau sama-sama mencintai kedunya, dan tidak akan membeda-bedakan kasih sayang seorang ayah kepada anak sendiri maupun kepada anak mantu.
§  Ritual Tanen
Kemudian ayahhanda menundukan sepasang pengantin dikursi pelaminan, yang  merupakan tanda bahwa beliau telah menyetujui pernikahan dan telah memberikan restunya. Dan ritual ini disebut ritual tenan.
§  Ritual Kacar-kacur atau Tampa Kaya
Hadirin yang berbahagia berikutnya yaitu Ritual Kacar-kacur atau Tampa Kaya, dimana pengantin putra memberikan bahan makanan pokok pada pengantin putri, yang menggambarkan bahwa sang suami akan memberikan seluruh pendapatnya kepada sang istri.
Dan sang istri menerima pemberian itu dengan selembar kain putih (yang ditaruh diatas selembar tikar tua) yang diletakkan diatas pangkuannya. Ini menggambarkan bahwasannya sang istri akan menjadi ibu rumah tangga yang baik dan berhati-hati.
§  Ritual Dahar Klimah atau Dahar Kembul
Hadirin……….. kini kita ritual dahar klimah atau dahar kembul, dimana kedua mempelai makan bersama dan saling menyuapi. Ritual ini melambangkan bahwa mereka akan bersama-sama mempergunakan dan menikmati hasil kekayaannya.
§  Ritual Mertui
Hadirian sekalian, selanjutnya ritual mertui. Orang tua mempelai putri menjemput orang tua mempelai putra. Kemudian mereka berjalan bersama-sama ketempat pelaminan. Para ibu berjalan kedepan dan para bapak mengiringi  dari belakang. Kedua orangtua mempelai putra duduk disebelah kiri pengantin dan kedua orangtua mempelai putri duduk disebelah kanan pengantin.
§  Ritual Sungkeman
Bapak ibu sekalian, pasangan pengantin kini siap untuk melaksanakan sungkeman, mereka dengan sikap hormat berjongkok dan menghanturkan sembah kepada kedua orang tuanya untuk memohon restu. Pertama sungkem kepada kedua orang tua pengantin putri, kemudian kepada orang tua pengantin putra.
Dan salam sungkeman, pemaes mengambil keris yang dipakai oleh pengantin putra, setelah sungkeman selesai keris tersebut akan dikenakan kembali. Seperti dalam kebiasaan pada upacara tradisional ini, orang tuia dari pasangan pengantin mengenakan kian batik atau jarik yang sama yaitu batik Truntun, maksudnya supaya pasangan baru tersebut mempunyai rejeki yang cukup untuk hidupnya.
Dan kedua orang tua dari pengantin mengenakan sindur ikat pengantin kain yang besar. Sindur tersebut bergambar garis yang melekuk-lekuk yang menggambarkan bahwasannya hidup ini mengalir berlekok-lekok bagaikan sungai. Dan tugas utama orang tua adalah menghantarkan pegantin baru tersebut menjalini kehidupan yang nyata, membangun rumah tangga yang kuat, sakinah mawaddah warohmah.

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar