Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Khutbah Jum’at: Keistimewaan dan Amalan 10 Muharram

 


اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْمُحَرَّمَ شَهْرًا مُبَارَكًا وَعَظِيْمًا. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَاحِبُ الْخُلُقِ الْعَظِيْمِ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

 

Syukur alhamdulillah, kita panjatkan kehadirat Allah SWT pada sampai saat ini kita masih diberikan nikmat umur yang panjang sehingga tidak terasa dan mungkin tidak kita sadari kita saat ini sudah memasuki tahun baru, yakni tahun baru Hijriyah 1448 H. Sebagai bentuk rasa syukur marilah kita tingkatkan ketaqwaan dan keimanan kita kepada Allah SWT dengan menjalankan segala apa yang diperintah dan menjauhi segala yang dilarang oleh Allah SWT.

Ya ma’asyiraol musilimin rahimakumullah.

Bulan muhaaram adalah bulan pertama tahun hijriyah, bulan muharram merupakan salah satu 4 bulan yang diistimewakan oleh Allah SWT (Asyhurul Hurum).

Ada empat bulan yang masuk dalam kategori ini: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muhaarram, dan Rajab. Dalam surat al-Taubah ayat 36,  Allah berfirman:

 إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ

Artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram…..” (QS: Al-Taubah ayat 36)

 Kemudian, Rasulullah dalam banyak hadis menjelaskan lebih lanjut bulan apa saja di dalam Islam yang masuk dalam kategori bulan haram. Beliau bersabda:  إنَّ الزَّمانَ قد استدار كهيئتِه يومَ خَلَق اللهُ السَّمواتِ والأرضَ، السَّنةُ اثنا عَشَرَ شَهرًا، منها أربعةٌ حُرُمٌ، ثلاثٌ متوالياتٌ: ذو القَعْدةِ، وذو الحِجَّةِ، والمحَرَّمُ، ورَجَبُ مُضَرَ الذي بين جُمادى وشَعبانَ

Artinya: “Sesungguhnya waktu telah berputar sebagaimana mestinya, hal itu ditetapkan pada hari di mana Allah menciptakan langit dan bumi. Dalam setahun ada dua belas bulan, di antaranya ada empat bulan yang mulia. Tiga darinya berturut-turut, yaitu Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram, dan Rajab, yang biasa diagungkan Bani Mudhar, antara bulan Jumadil Tsani dan Sya’ban.” (HR: Bukhari)

***********
Rasulullah SAW menyebut bulan ini dengan nama yang sangat mulia, yaitu Syahrullah  (Bulan Allah). Mengenai keutamaan beribadah di bulan ini, beliau bersabda:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ

"Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, Muharram." (HR. Muslim)

Di antara sekian banyak hari di bulan Muharram, ada satu hari yang sangat istimewa, yaitu hari Asyura yang jatuh pada tanggal 10 Muharram. Hari Asyura adalah hari bersejarah di mana Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa AS dan kaumnya dari kejaran Fir’aun yang dzalim. Kisah berlabuhnya bahterah Nabi Nuh AS dari banjir, badai dan topan yang dasyat. 

Abu Utsman an Nahdi rahimahullah berkata, “3 waktu yang diagungkan yaitu: 10 hari terakhir bulan Ramadhan, 10 hari pertama bulan Dzulhijjah, 10 hari pertama bulan Muharram”.

Sebagai bentuk syukur, para ulama menganjurkan kita untuk menghidupkan hari Asyura dengan berbagai amalan ibadah. Setidaknya, ada tiga amalan utama yang sangat ditekankan untuk kita amalkan:

Pertama: Melaksanakan Puasa Sunnah Asyura, Rasulullah SAW bersabda mengenai keutamaan puasa pada tanggal 10 Muharram ini:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ إِلَّا هَذَا الْيَوْمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَهَذَا الشَّهْرَ يَعْنِي شَهْرَ رَمَضَانَ

Dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhuma berkata, “Tidak pernah aku melihat Nabi sengaja berpuasa pada suatu hari yang Beliau istimewakan dibanding hari-hari lainnya kecuali hari ‘Asyura’ dan bulan ini, yaitu bulan Ramadan”. (HR Al-Bukhari)

Dalam sirah nabawiah disebutkan, “Setibanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah, beliau mendapatkan orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura. Mereka ditanya tentang masalah itu, lalu mereka menjawab; “Ini adalah hari di saat Allah memenangkan Musa ‘alaihissalam dan bani Isra’il atas Fir’aun. Dan kami berpuasa untuk mengagungkan hal itu.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kami lebih berhak atas Musa daripada kalian.” Kemudian beliau memerintahkan untuk berpuasa pada hari ‘Asyuro`.” (Muttafaqun Alaihi).

لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ

“Seandainya tahun depan aku masih hidup, niscaya saya benar-benar akan berpuasa pada hari ke sembilan (Muharam).” (H.R. Muslim)

Untuk membedakan puasa kita dengan kaum Yahudi, Rasulullah juga menganjurkan kita untuk mengiringinya dengan puasa Tasu’a pada tanggal 9 Muharram, atau sehari setelahnya pada tanggal 11 Muharram.

Kedua: Meluaskan Nafkah untuk Keluarga, Hari Asyura adalah hari kasih sayang. Rasulullah SAW menganjurkan para suami atau kepala keluarga untuk memberikan nafkah yang lebih lapang, berupa makanan atau kebutuhan yang lebih menyenangkan hati istri dan anak-anak di rumah pada hari tersebut. Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa memberi kelapangan nafkah bagi keluarganya di hari Asyura, maka Allah akan melapangkan rezekinya sepanjang tahun itu." (HR. Al-Baihaqi).

Ketiga: Menyantuni Anak Yatim dan Memperbanyak Sedekah, Para ulama dan sesepuh kita senantiasa mengajarkan bahwa bulan Muharram, khususnya hari Asyura, adalah "Lebarannya Anak Yatim". Mari kita tengok kanan-kiri kita. Jika ada anak-anak yatim yang kekurangan, usaplah kepala mereka dengan penuh kasih sayang, berikan sedekah terbaik kita. Kebaikan yang kita tanam kepada anak yatim di hari Asyura akan mendatangkan keberkahan yang berlipat ganda bagi sisa umur kita.

Jamaah yang Dirahmati Allah, Mumpung kita masih berada di awal tahun baru Islam ini, mari kita tata kembali niat kita. Mari kita isi lembaran-lembaran baru kalender kehidupan kita dengan memperbanyak istighfar, mempererat tali silaturahmi, dan merutinkan amalan sunnah, meluaskan nafkah ke keluarga, menyantuni anak yatim. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita menjadi hamba-hamba-Nya yang istiqamah.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.


KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْبَشَرِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. فَقَالَ تَعَالَى: اِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah,

Marilah kita tundukkan kepala, menghadirkan hati yang khusyuk di hadapan Allah SWT. Kita bermunajat dan berdoa di hari Jumat yang mulia ini, di bulan Muharram yang agung, semoga Allah mengabulkan segala hajat dan mengampuni dosa-dosa kita.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ شَهْرِ الْمُحَرَّمِ، وَأَعِنَّا فِيْهِ عَلَى الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ وَصِلَةِ الْأَرْحَامِ. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ هٰذَا الْعَامَ الْجَدِيْدَ عَامَ خَيْرٍ وَبَرَكَةٍ وَأَمْنٍ وَسَلَامَةٍ عَلَيْنَا وَعَلَى بِلَادِنَا اِنْدُوْنِيْسِيَا خَاصَّةً وَعَلَى جَمِيْعِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً.

اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ. رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ. أَقِيْمُوا الصَّلَاةَ!



Surakarta, 19 Juni 2026
Coretan@fivwae

1 komentar untuk "Khutbah Jum’at: Keistimewaan dan Amalan 10 Muharram "